Lindungi Paru-Paru Dari Polusi Udara



Lindungi Paru-Paru Dari Polusi Udara
The image is Pixabay property

Jangan sepelekan polusi, masalah lingkungan ini merupakan salah satu sumber utama penyakit sekaligus kematian di dunia. Tubuh manusia secara alami didesain untuk melindungi paru-paru dari kuman dan partikel seperti debu atau serbuk. Tapi polusi udara tetap dapat mengganggu jaringan paru-paru sekaligus melemahkan pertahanan tubuh. 

Polusi udara dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan iritasi pada organ sistem pernapasan seperti hidung dan tenggorokan sehingga menyebabkan bersin-bersin. Selain itu, polusi juga dapat memperburuk penyakit paru-paru seperti asma, bronkitis, dan emfisema.

Dampak polusi terhadap kesehatan bergantung kepada kondisi Anda saat itu, berapa lama Anda terekspos oleh udara yang terpolusi dan jenis polusi. WHO bahkan menyatakan polusi udara sebagai masalah lingkungan terbesar yang memberi dampak signifikan pada kesehatan manusia.

Dengan mengurangi tingkat polusi udara, sebuah negara dapat mengurangi risiko penyakit stroke, jantung, kanker paru-paru, serta masalah pernapasan kronis maupun akut seperti asma, di antara penduduknya.

Pada tahun 2012, tercatat sejumlah 3,7 juta orang di dunia yang meninggal akibat polusi udara luar ruangan. Selain polusi udara luar ruangan, polusi di dalam ruangan juga mengakibatkan risiko kesehatan serius bagi tiga miliar orang di dunia yang menggunakan arang dan bahan bakar biomassa di dalam rumah. Berikut ini adalah beberapa polusi udara dan dampaknya terhadap kesehatan.

1. Nitrogen Dioksida

Nitrogen dioksida (NO2) muncul dari proses pembakaran (pemanasan, pembangkit listrik, mesin kendaraan, dan kapal). Terpapar NO2 secara terus-menerus dapat meningkatkan gejala bronkitis pada anak-anakpenderita asma. NO2 juga dapat mengurangi fungsi paru-paru.

2. Unsur-Unsur Partikel

Komponen partikel di udara terdiri atas sulfat, nitrat, ammonia, natrium klorida, dan debu mineral. Jika terpapar oleh kombinasi unsur-unsur tersebut secara terus-menerus, dapat meningkatkan risiko terkena penyakit kardiovaskular dan pernapasan seperti kanker paru-paru.

3. Ozon

Jangan samakan ozon di permukaan tanah dengan lapisan ozon di atmosfer. Walau pada lapisan atmosfer ozon berfungsi sebagai penangkal cahaya ultraviolet (UV), pada permukaan bumi ozon termasuk polusi. Ozon di permukaan bumi terbentuk ketika cahaya matahari memicu reaksi kimia antara unsur-unsur polusi. Polusi ozon dapat mengurangi fungsi paru-paru, memicu asma, dan penyakit paru-paru lainnya.

4. Sulfur Dioksida

Sulfur dioksida atau SO2 dapat menyebabkan inflamasi pada saluran pernapasan sehingga memicu gejala batuk-batuk berdahak. Menghirup unsur ini juga meningkatkan risiko seseorang terserang infeksi pada sistem pernapasannya dan memperparah kondisi asma serta bronkitis. Sulfur dioksida dihasilkan dari pembakaran batu bara dan bensin.

Udara yang Anda hirup, meski terlihat bersih, mungkin mengandung banyak zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan Anda. Cobalah lindungi diri Anda dan keluarga dengan cara menggunakan pembersih udara (air purifier), masker pernapasan, dan menanam tanaman yang berfungsi sebagai pembersih udara di dalam ruangan.

Pemandangan orang memakai masker wajah di tempat kerja atau saat naik kendaraan umum mungkin tidak asing lagi bagi Anda. Pertanyaannya adalah apakah masker tersebut benar-benar mampu melindungi Anda dari polusi? Tujuan utama memakai masker adalah mencegah Anda terkena penyakit, misalnya dari polusi yang dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan Anda.

Meski tidak terlihat, ada begitu banyak zat berbahaya di udara. Berbentuk debu halus atau asap, dan gas yang tidak terlihat. Salah satu tempat Anda bisa terekspos zat berbahaya adalah di tempat kerja. Anda mungkin terekspos oleh zat-zat berbahaya yang bisa menimbulkan masalah pernapasan seperti batuk, bersin-bersin, dada sakit, sesak, atau bahkan sulit bernapas. Masker dapat menjadi pelindung terhadap zat-zat berbahaya semacam itu.

Meski begitu, Anthony Hedley, Profesor dari University of Hong Kong mengatakan, masker wajah yang terbuat dari kertas sama sekali tidak bermanfaat. Pendapat ini didukung oleh Edward Postlethwait, PhD, dari University of Alabama, Birmingham. Menurut Postlethwait, menggunakan masker yang tidak pas menutup wajah sama sekali tidak akan memberikan perlindungan kepada tubuh. Masker yang khusus dibuat untuk pernapasan mungkin bisa berfungsi sebagai pelindung, tapi jelas bukan masker kertas atau kain seperti yang biasa dikenakan oleh dokter saat melakukan operasi.

Masker yang dibuat khusus untuk pernapasan disebut sebagai N95 Respirator. Masker ini berbeda dengan masker wajah biasa. Meski sama-sama didesain untuk mencegah penyebaran kuman (virus dan bakteri), N95 dirancang secara pas menutupi wajah dan dilengkapi dengan alat yang sangat efisien untuk menyaring partikel berbahaya di udara, bahkan partikel dengan ukuran kecil sekalipun. Sebaliknya, masker wajah biasa terasa longgar dan tidak menempel di wajah. Untuk mencegah diri Anda terpapar oleh zat-zat berbahaya di udara, Anda memerlukan masker pernapasan N95.

Ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan saat menggunakan N95 Respirator agar masker ini dapat bekerja dengan efektif dalam melindungi kesehatan Anda:
  • N95 tidak dirancang untuk anak-anak atau Anda yang memiliki rambut pada wajah karena N95 tidak akan bisa menutupi wajah secara sempurna, menyisakan celah dan bisa dimasuki partikel-partikel berukuran kecil.
  • Orang-orang yang memiliki masalah pernapasan kronis, jantung, atau kondisi medis lainnya yang membuat mereka sulit bernapas harus terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter mengenai penggunaan N95. Anda memerlukan usaha lebih keras untuk bernapas menggunakan N95, karena itulah, lebih baik untuk menanyakan cara penggunaannya dengan ahli terlebih dahulu.
  • Untuk mencegah penularan bakteri atau virus, N95 tidak boleh dipakai bergantian dengan orang lain.
  • Jika N95 milik Anda sudah rusak, kotor, atau membuat Anda sulit bernapas, segera ganti dengan yang baru.
  • Pastikan untuk selalu melindungi diri Anda dari zat berbahaya di udara dengan menggunakan masker pernapasan yang tepat.


Penulis: Alodokter
Lihat artikel menarik lainnya dalam http://www.alodokter.com


No comments:

Post a Comment